Sabtu, 17 September 2016

Laa ma’buda bihaqqin illallah !!!

Laa ma’buda bihaqqin illallah !!!


A : “Pak dosen, bisa tolong jelaskan ke ana apa makna dari kalimat ‘Laa ilaaha illallah’?”

B : “Baiklah, akan ana jelaskan, dengarkan baik2…
Kalimat Laa ilaaha illallah mempunyai 2 makna, yaitu:
1. Tidak ada Tuhan selain Allah.
2. Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar).”

A : “Tidak ada tuhan selain Allah? Apa arti dari kata ‘Tuhan’ pada kalimat tersebut, pak dosen?”
B : “Tuhan artinya Sang Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta.”

A : “Kalau Tuhan diartikan hanya sebagai Sang pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta, berarti orang2 musyrikin Mekkah pada zaman Nabi Muhammad juga termasuk muslim, bukan orang musyrik, tapi kenapa mereka diperangi sama Nabi?”

B : “Siapa yang bilang kalo mereka juga muslim?? Mereka tetap musyrik!”

A : “BUkankah mereka juga mengakui dan mempercayai kalau Tuhan mereka adalah Allah, yang telah menciptakan mereka, memberi rizki mereka dan mengatur alam semesta ini?!
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab,’Allah’” (QS. Yunus [10]: 31).
Ayat tersebut ditujukan kepada kaum musyrikin pada waktu itu yang juga menyakini bahwa Tuhan  mereka adalah Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta. Kalau mereka mengakui juga seperti itu, lantas kenapa mereka tetap musyrik dan diperangi??”

B : (Glek…!) “Maaf, Tuhan itu bermakna Sesembahan. Jadi Laa ilaaha illallah maknanya adalah ‘Tidak ada sesembahan selain Allah’.”

A : “Tidak ada sesembahan selain Allah??… Hmmm….
Berarti Nabi Isa adalah Allah? Sesembahannya kaum musyrikin Mekkah seperti Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Latta, Uzza, dan Manat semuanya adalah Allah?”

B: “Tidak! Siapa yang bilang mereka adalah Allah? Mereka adalah berhala2, bukan Allah!”

A : “Coba bapak cermati, kalimat ‘Tidak ada sesembahan kecuali Allah’, artinya sama dengan ‘Semua sesembahan adalah Allah’. Contoh lain adalah ketika kita mengatakan, ‘Tidak ada pendaki gunung kecuali memiliki senter’ maka artinya sama dengan ‘Semua pendaki gunung memiliki senter.”
Berarti semua sesembahan yang disembah di dunia ini adalah Allah? Jika mengikuti makna dari pemahaman bapak.
Firman Allah Ta’ala, “Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan” (QS. Yasin [36]: 73).
Kesimpulannya, memaknai ‘laa ilaaha illallah’ dengan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ adalah tidak tepat karena realita menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat sesembahan-sesembahan yang lain selain Allah Ta’ala. Bahkan Allah sendiri mengakui bahwa memang terdapat sesembahan selain Dia.”

B : “Jadi, apa makna yang benar dari kalimat Laa ilaaha illallah menurut anda?”

A : “Makna yang tepat adalah La ma’buda bihaqqin illallah, yaitu tidak ada sesembahan yang berhak (benar) disembah kecuali Allah, atau Laa ilaaha haqqun illallah. Dalilnya firman Allah Ta’ala yang artinya, “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah itulah (sesembahan) yang batil” (QS. Luqman [30]: 31).
Inilah kenapa kaum musyrikin Mekkah enggan menerima dan mengucapkan kalimat ini. kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya, entah itu malaikat, nabi, orang salih, jin, matahari, pohon, apalagi batu. Dan orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu shalat, puasa, nadzar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya hanya boleh ditujukan kepada Allah.”

B : “Anda telah berbuat Bid’ah! Anda telah menambahkan kalimat lain kedalam kalimat Laa ilaaha illallah, menjadi Laa ilaaha haqqun illallah atau La ma’buda bihaqqin illallah. Kenapa kalimat tersebut ditambahkan dengan kata ‘haqqun’? Apakah itu bukan bid’ah?”

A : “Dijelaskan oleh ulama, karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata ‘haqqun’ dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada satu kata yang dibuang (yaitu ‘haqqun’) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78).
Yang sebenarnya bid’ah adalah ketika kalimat tersebut diartikan dengan makna yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, yaitu seperti mengartikan Tuhan sebatas keyakinan orang-orang awwam, atau mengartikan menjadi ‘Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)’. Wallahu a’lam.”

Sabtu, 07 Mei 2016

Renungan.mengenai sholat

Renungan.
Apabila kita ingin mendirikan solat maka mulakan dgn langkah tertipnya, sekiranya kita melaksanakan dimasjid2 berjemaah, itu satu perkara yg afdal dan yg disarankan oleh Rasulullah s.a.w.
Apabila kita sudah ada di dalam saf, langkah kita dgn langkah kaki kanan dahulu diatas barisan saf dgn menyebut Allah kaki kanan dan kiri Akhbar.
Angkat tangan doa didalam hati (Ya Allah, terimalah amal ibadah dari hambamu yg dhoif ini)-
Kemudian mengucaplah 2 kalimah syahadah, Selawat atas nabi lahaulawala quataillabilla....bacalah al ikhlas 1x
Pejam mata seketika, tenang...kemudian tarek nafas perlahan2 lembut tahan sedetik maka lepaskan nafas seraya menyebut lafas niat.
tarek nafas kembali halus dan lembut lakukan pula perbuatannya dan sebutlah dgn ikhlas ALLAH AKHBAR..
Sambil kiam.
Kemudian tarek nafas lembut sampai kedada kempis kan perut lembut lepaskan nafas seraya menyebut doa iftitah sampai mana yg kita mampu, ulang2 kan kaedah itu berulang2 sehingga selesai bacaan kita.

Apabila membaca tawauz/isti'azah tenang dan tarek nafas dari hidung perlahan tenang dan lembut hingga ke dada dan kempiskan perut dan lepaskan nafas seraya sebutlah ucapannya, dan begitulah dlm bacaan basmallah dan al fatehah dan semua bacaan2 didalam solat.
Cuba praktikkannya, lembut dan ikhlas, kita akan dapat rasakan suasana ibadah itu dlm keadaan tenang dada bergetar yg mampu melahirkan rasa sebak didada sehingga kita sendiri tidak mampu menahannya,.
insha Allah, cubalah pujuk2 hatimu itu agar lembut, sepertimana yg kita faham dan kita selalu katakan Allah itu begitu dan begini. Rasakan kebesaranNya dan KebenaranNya.

Senin, 02 Mei 2016

ADAB UTANG PIUTANG


1. Jangan pernah tidak mencatat utang piutang.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ... سورة البقرة 282
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya." (QS Al-Baqarah: 282)
2. Jangan pernah berniat tidak melunasi utang.
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا . رواه ابن ماجة 2410
"Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang PENCURI." (HR Ibnu Majah ~ hasan shahih)
3. Punya rasa takut jika tidak bayar utang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ " . رواه مسلم 1886
"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni KECUALI utang". (HR Muslim)
4. Jangan merasa tenang kalau masih punya utang.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ " . رواه ابن ماجة 2414
"Barangsiapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR Ibnu Majah ~ shahih)
5. Jangan pernah menunda membayar utang.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ ". رواه البخاري 2287 ، مسلم 1564 ، النسائي 4688 ، ابو داود 3345 ، الترمذي 1308
"Menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman." (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi

KISAH PENCIPTAAN MALAIKAT JIBRIL


Tatkala Allah menciptakan Malaikat Jibril AS, dipilihlah wujud yang paling rupawan. Maka ia dilengkapi dengan 600 sayap. Masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur sampai penjuru paling barat. Begitu penciptaan selasai, berdirilah malaikat Jibril memandangi dirinya yang sangat rupawan.
Dan berkata, "Ya Allah..ya Tuhanku, adakah Engkau menciptakan mahluk yang lebih rupawan daripada aku? Allah menjawab, "Tidak ada yg Aku ciptakan yg lebih rupawan daripada engkau ya Jibril".
Mendengar jawaban Allah seperti itu, perasaan Jibril pun berbunga bunga tiada tara.
Sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam, ia kemudian mengerjakan shalat 2 rakaat, yang setiap rekaatnya dilakukan selama 20.000 (dua puluh ribu)tahun..Subhanallah, luar biasa dahsyatnya ungkapan rasa syukur malaikat jibril kepada Allah SWT.
Setelah malaikat Jibril selasai mengerjakan shalatnya, Allah SWT berfirman kepadanya, " Hai jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah melakukan penyembahan kepadaKu dengan penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang Aku sayangi, dia bernama Muhammad".
Ia memiliki umat yang lemah, yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunya pun tergesa- gesa dan tidak konsentrasi, maka demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh shalat mereka itu lebih Aku sukai dari pada shalatmu! Mengapa? Karena shalat mereka berdasarkan perintah-Ku, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintah-Ku
Jibril kemudian bertanya, "Ya Allah, lalu apakah balasan yang bakal Engkau berikan atas 'ibadah mereka?".
Allah menjawab, "Balasan yang bakal Aku berikan unt mereka adalah Surga Ma'wa".
Begitu mendengar kata2 surga Ma'wa, malaikat Jibril memohon izin kepada Allah agar diperkenankan melihatnya. Allah pun mengabulkan permohonan Jibril ini, dan langsung berangkat menuju Surga tsb.Dia bentangkan sayapnya, lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh...
Setiap kali ia membuka sepasang sayapnya, maka berarti dia menempuh jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu)tahun perjalanan. Begitu juga setiap menutupkan sayap, padahal ia terbang selama tiga ratus ribu tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus sayap.Namun sejauh itu ia belum juga berhasil mencapai tujuannya.
Ketika merasa begitu letih, Jibril beristirahat disebuah pohon raksasa, kemudian ia bersujud kepada Allah SWT seraya mengadu, "Ya Allah, apakah perjalananku telah sampai separonya, ataukah baru dua pertiga atau bahkan separonya?".
Allah SWT berfirman kepadanya, "Hai Jibril, walaupun kau mampu terbang selama tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan Aku tambah lagi enam ratus sayap, niscahya tidak akan kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akan Aku berikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat!".
Subhanallah..Betapa Allah begitu memuliakan Manusia. Sementara kita, manusia ini demikian mudahnya melupakan- Nya. Marilah kita senantiasa bersyukur karena telah ditaqdirkan kita menjadi umat Nabi Muhammad SAW...

":::JAWABAN KETIKA ORANG KIRIM SALAM PADA ANDA:::"


" Mungkin kita yang mendapat kiriman salam atau terkadang kita yang dititipi salam, baik dari orang lain, teman ataupun keluarga, baik secara langsung atau melewati surat atau sms.
Terinspirasi hal tersebut, bagaimana seharusnya cara menjawab "kiriman salam" dari seseorang.
Sebagai rujukan atas masalah tersebut adalah kitab Al Adzkar An Nawawi yang menjelaskan dalil tentang kirim / jawab salam.
وروينا في سنن أبي داود عن غالب القطان عن رجل قال: حدثني أبي عن جدي، قال: بَعَثَنِي أَبِي إِلَى رَسُوْلِ الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلامَ، قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ : إنَّ أَبِي يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ، فَقَالَ : عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمُ.
Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud dari Gholib Al Qotthon dari seseorang yg berkata, ayahku telah memberitahuku dari kakekku, dia berkata : "Ayahku mengutusku kepada Rosulullah SAW dan berkata ; Temuilah Rosulullah dan sampaikan untuknya salam. Maka aku mendatangi Rosulullah dan kukatakan, "Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untuk Engkau", maka Rosulullah menjawab : "Alaika wa 'ala abiika assalam (semoga keselamatan atasmu dan juga ayahmu)"
"Wa'alaikum salam"
Ini adalah jawab kita jika ada seseorang yg mengucap salam kepada kita.
Sebagaimana kita maklumi, hukum menjawab salam adalah wajib. Dan arti dari salam tersebut adalah doa keselamatan.
Begitu juga dengan kiriman salam, maka kita juga wajib menjawabnya seketika/langsung setelah kita mendengar atau mendapatkannya.
Namun jika kita hanya mengucap "wa'alaikum salam", kita hanya mendoa'kan orang yg mengucap salam saja. Sedangkan yang mengirim salam tidak mendapat doa kita, ini menurut tata bahasa Arabicnya.
"wa'alaikum salam" berarti "semoga keselamatan juga terlimpah atasmu"
Maka untuk "kirim salam" ini terdapat tambahan lafadz yang berbeda sesuai dengan jenis kelamin pengucap dan pengirim salam, laki-laki (mudzakkar) atau perempuan (mu'annats)
Misalnya :
1. Ahmad berkata :
"Ya Ali..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
2. Fatimah berkata :
"Ibu..., Kakek kirim salam untuk Ibu"
maka untuk "kirim salam" di atas :
1. Ali menjawab : 'alaika wa 'alaihas salam
semoga keselamatan juga atasmu
(Ahmad) dan dia (Bibi Aminah)
2. Ibu menjawab : 'alaiki wa 'alaihis salam
semoga keselamatan juga atasmu
(Fatimah) dan dia (Kakek)
Pembeda dari jawaban di atas intinya terletak pada akhir kata yg menunjukkan jenis kelamin.
"ka" = kamu (laki-laki) "hi" = dia (laki-laki)
"ki" = kamu (perempuan) "ha" = dia (perempuan)
Dari kedua contoh di atas terdapat perbedaan jenis pelaku, baik pengucap maupun pengirim salam. Untuk itu cara menjawab "kirim salam"nya pun menjadi berbeda disesuaikan dengan kaidah tata bahasa Arab.
Pada dasarnya jika kita mendapat "kirim salam", pasti kita sudah mengetahui siapa orang yg sedang ucap salam atau yg mengirim salam kepada kita, laki-laki kah dia atau perempuan. Nah inilah yang menjadi pembeda bentuk grammer jawaban salam kita.
Beberapa bentuk lafadz cara menjawab "kirim salam" adalah sebagai berikut :
1. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam laki-laki
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., Hasan kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihis salam
2. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam perempuan
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihas salam
3. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam perempuan
contoh : Zahra berkata, "Zein..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihas salam
4. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam laki-laki
contoh : Zahra berkata, "Zein..., Hasan kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihis salam
5. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam dua orang lebih
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., jama'ah majelis kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihimus salam
6. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam dua orang lebih
contoh : Zahra berkata, "Zein..., jama'ah majelis kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihimus salam
Ini adalah beberapa bentuk jawaban "kirim salam" menurut tata bahasa Arabicnya, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita demi kesempurnaan Syiar Islam terutama dalam menyebarkan salam.
Segala kebenaran datangnya dari Allah SWT, dan kesalahan berasal dari alfaqir karena minimnya pengetahuan.
والله الموفق وأعلم بالصواب
Allah yang memberi taufiq dan lebih mengetahui kebenaran.SEMOGA BERMANFAAT .AMIN.

Selasa, 26 April 2016

CARA MENGUSIR TUMOR FIBROID

TOLONG''DICATAT DAN PAHAMI INILAH CARA MENGUSIR TUMOR FIBROID DALAM BENTUK KUTIL TAMPA HARUS PERGI KEDOKTER !!!

Tumor fibroid - Kutil, Cara Hapus Mereka Tanpa Pergi Untuk The Doctor

Tumor fibroid adalah tumor jinak pada jaringan ikat. Mereka muncul sebagai kutil pada kulit dengan ukuran hanya beberapa milimeter. Mereka biasanya memiliki warna yang sama dengan kulit, tetapi mereka dapat berpigmen juga. Tumor fibroid tidak kanker, tetapi masalah dari sudut pandang estetika.

Tumor fibroid sebagian besar terjadi pada orang paruh baya pada daerah leher, ketiak, perut, bawah payudara, kelopak mata dan di mana-mana pada kulit. Setiap orang memiliki setidaknya satu fibroma pada kulit, sehingga tidak kondisi langka.

Mereka juga bisa rusak dan menyebabkan peradangan, pertumbuhan, perdarahan, dll Jumlah mereka meningkat dengan usia. Tidak ada alasan untuk pembentukan mereka tumor fibroid masih dikenal, tapi genetika dan obesitas tentu berperan. Mereka dapat bervariasi dalam jumlah - dari beberapa beberapa ratus.
Tumor fibroid mudah dihapus dengan cuka sari apel, tanpa perdarahan dan jaringan parut. Cuka sari apel adalah salah satu pengobatan rumah yang paling efisien. Namun, tidak menghapus fibroma sekitar mata dengan cuka sari apel karena dapat mengiritasi mereka!

Berikut adalah cara menggunakan cuka sari apel untuk menghilangkan tumor fibroid:

Cuci daerah sekitar fibroma hanya menggunakan air dan sabun. Hanya pertama kali, gunakan kapas yang dibasahi air untuk membersihkan fibroma dan biarkan kering. Kemudian, rendam sepotong kapas dalam cuka sari apel dan memeras kelebihan cairan. Tempatkan kapas di fibroma dan menempatkan bantuan band di atasnya. Biarkan selama 15 menit, lalu bilas dengan air. Ulangi prosedur tiga kali sehari selama seminggu. Fibroma akan mulai gelap dan akhirnya jatuh.

Tergantung pada ukuran fibroma, bisa ada bekas luka ringan, yang dapat Anda memperlakukan dengan calendula krim atau gel Aloe Vera. Jika fibroma adalah pada permukaan kulit, tidak akan ada bekas luka

Jumat, 26 Desember 2014

AWALUDDIN MAKRIFATULLAH

Terimakasih tuan..
AWALUDDIN MAKRIFATULLAH
Islam adalah iman , ilmu dan amal .
Iman adalah persoalan aqidah atauk.
Ilmu dan amal pula, ada yang berbentuklahiriah dan ada yang berbentuk
batiniah atau rohaniah.
Bertolak dari aqidah, maka timbullah keperluan untuk beribadah sama
ada ibadah lahir mahupun ibadah batin.Setelah Tuhan dikenali,
dicintai dan ditakuti, maka akan terdoronglah kita untuk menyembah dan
mengagungkan- Nya dan untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Akan
terdoronglah kita untuk melaksanakan segala suruhan dan meninggalkan
segala larangan-Nya. Akan terdoronglah kita untuk patuh dan taat
kepada-Nya. Akan terdoronglah kita untuk berjuang dan berkorban
kerana-Nya.
Ilmu lahiriah ialah ilmu feqah yang bersangkut paut dengan amalan
lahir. Ilmu batiniah atau rohaniah pula ialah ilmu tasawuf yang
bersangkut paut dengan amalan hati. Amalan sama ada yang lahir atau
yang batin mestilah didorong oleh aqidah. Ia mesti didorong oleh rasa
cinta dan takut kepada Allah . Barulah amalan itu akan bermakna dan
akan mempunyai erti dan maksud yang betul. Amalan adalah jalan, kaedah
atau cara untuk membukti dan merealisasikan rasa cinta dan rasa takut
kita kepada Allah.
Bila Allah sudah dikenali, barulah kita betul-betul boleh
mempraktikkan atau melaksanakan agama. Barulah Allah itu menjadi
matlamat dan tumpuan ibadah dan pengabdian kita. Barulah amalan kita
itu ada tempat tujunya. Barulah akan terjalin dan tercetus hubungan
antara hamba dengan Tuhannya. Dalam beragama, kenal Allah itu perkara
pokok yang mesti didahulukan. Selepas itu baru timbul soal amalan. Ini
sesuai dengan hadis yang bermaksud :"Awal-awal agama mengenal Allah"
Amalan agama yang tidak didahului oleh rasa cinta dan rasa takut
kepada Allah sudah tentu tidak akan membawa kita kepada-Nya. Sudah
pasti ia didorong oleh perkara-perkara dan kerana-kerana yang lain.
Mungkin kerana mahukan Syurga. Mungkin kerana takutkan Neraka. Mungkin
kerana mahukan pahala dan fadhilat. Walaupun tujuan-tujuan ini tidak
salah kerana ianya sebahagian dari janji-janji Tuhan, tetapi maqamnya
terlalu rendah. Justeru itu hasil dan manfaat dari ibadah seperti ini
juga adalah rendah.
Ibadah yang didorong oleh perkara-perkara seperti ini, walaupun
banyak, tidak akan dapat mengubah akhlak dan peribadi kita. Ia tidak
akan menimbulkan rasa bertuhan dan rasa kehambaan di dalam hati kita.
Kerana itu, ia tidak akan mampu menyuburkan sifat-sifat mahmudah dan
membakar sifat-sifat mazmumah yang bersarang di hati kita. Ini kerana
Tuhan tidak dilibatkan dan tidak dijadikan matlamat dalam ibadah kita.
Kalau Tuhan tidak dilibatkan, maka hati akan kurang berperanan kerana
hati itu wakil Tuhan. Ibadah yang tidak ada Tuhan ini sudah tentu
tidak ada rohnya, tidak ada rasanya dan tidak ada khusyuknya. Bila
hati tidak berperanan, maka tidak akan ada penghayatan dan penjiwaan
dalam ibadah.
Tambahan pada itu ibadah kerana hendakkan Syurga, pahala dan fadhilat
dan kerana takutkan Neraka ini adarisikonya. Disebabkan Tuhan dan
hati tidak dilibatkan sama dalam ibadah seperti ini, maka ibadah ini
tidak ada kekuatannya. Lama kelamaan, ia akan dicelahi dengan rasa
bosan dan jemu. Sukar hendakdiistiqamahkan. Ia juga mudah dihinggapi
penyakit riyak, ujub dan sum'ah. Ini semua akan memusnahkan pahala
ibadah. Lebih-lebih lagilah kalau tujuan dan niat ibadah itu adalah
untuk dipuji, untuk disanjung, untuk mendapat nama dan glamour, untuk
menunjuk-nunjuk dan kerana sebab-sebab lain yang berbentuk duniawi.
Sudah tentulah ia tidak ada nilai apa-apa. Malahan ibadah seperti ini
akan Allah lemparkan semula ke muka pengamalnya berserta dengan
laknat-Nya sekali. Ibadah seperti ini tidak akan mendekatkan seseorang
itu dengan Allah. Malahan dia akan bertambah jauh dari Allah. Dia
berbuat maksiat dan kemungkaran dalam ibadahnya. Lagi banyak dia
beribadah, lagi dia rasa sombong, angkuh, riyak, ujub, rasa diri
mulia, rasa diri baik dan sebagainya. Lagi banyak dia beribadah, lagi
dia pandang orang lain hina, jahat dan tidak berguna.
Beramal dalam Islam ada tertibnya. Ada urutan dan susunannya. Ada
"progression" nya dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Ia
bermula dengan Syariat , kemudian dengan Tariqat , diikuti pula dengan
hakikat dan diakhiri dengan Makrifat .
Syariat.
Ini adalah ilmu sama ada ilmu bagi amalan, lahir (feqah) atau ilmu
bagi amalan hati (tasawuf). Ini adalah langkah pertama dalam tertib
beramal. Ia melibatkan ilmu tentang peraturan, hukum-hakam, halal
haram, sah batal dan sebagainya. Ilmu perlu dalam beramal. Tanpa ilmu,
kita tidak tahu macam mana hendak beramal mengikut cara yang Tuhan
mahu. Kalaupun kita sudah cinta dan takut dengan Tuhan dan kita
terdorong untuk menyembah-Nya, kita tidak boleh berbuat demikian ikut
sesuka hati kita atau ikut cara yang kita cipta sendiri. Tuhan tidak
terima, kita mesti ikut cara yang ditetapkan oleh Islam, kita mesti
belajar. Amalan tanpa ilmu itu tertolak. Ilmu atau syariat ini ibarat
biji benih.
Tariqat .
Ini adalah peringkat menghidupkan ilmu menjadi amalan sama ada amalan
lahir mahupun amalan hati secara istiqamah dan bersungguh-sungguh.
Ilmu (syariat) yang ada perlu dilaksanakan. Ini dinamakan juga tariqat
wajib dan ia tidak sama maksudnya dengan tariqat sunat yang
mengandungi wirid-wirid dan zikir-zikir yang menjadi amalan sesetengah
pengamal-pengamal sufi. Tariqat ini ibarat kita menanam biji benih
tadi (syariat) hingga ia bercambah, tumbuh dan menjadi sebatang pokok
yang bercabang dan berdaun.
Hakikat.
Hakikat adalah buah. Selepas kita ada syariat, kemudian kita amalkan
syariat itu hingga ia naik ke peringkat tariqat, yakni ia menjadi
sebatang pokok yang bercabang dan berdaun, maka kalau cukup
syarat-syaratnya maka pokok itu akan menghasilkan buah. Buah tariqat
adalah akhlak dan peningkatan peringkat nafsu atau pencapaian
maqam-maqam mahmudah. Boleh jadi ia menghasilkan maqam sabar , maqam
redha , maqam tawakkal , maqam tawadhuk , maqam syukur dan
berbagai-bagai maqam lagi. Boleh jadi hanya terhasil satu maqam sahaja
(sebiji buah sahaja) atau boleh jadi akan terhasil beberapa maqam yang
berbeza dari satu pokok yang sama. Hakikat adalah perubahan jiwa atau
perubahan peringkat nafsu hasil dari syariat dan tariqat yang dibuat
dengan faham dan dihayati.
Makrifat .
Ini adalah hasil dari hakikat, iaitu hal-hal hakikat yang dapat
dirasai secara istiqamah. Ia adalah satu tahap kemajuan rohaniah yang
tertinggi hingga dapat benar-benar mengenal Allah dan
rahsia-rahsia- Nya. Orang yang sudah sampai ke tahap ini digelar Al
Arifbillah