Sabtu, 17 September 2016

R I B A H

PAKAIAN KEREN, TAMPILAN MEMUKAU, PADAHAL PROFESINYA LEBIH HINA PUN LEBIH BESAR DOSANYA DARI PEZINA. APA ITU ? BEKERJA DI TEMPAT RIBA !!!

image


Memakan Satu Dirham dari Hasil Riba …
Di akhir zaman sekarang ini, telah nampak praktek riba tersebar di mana-mana. Dalam ruang lingkup masyarakat yang kecil hingga tataran negara, praktek ini begitu merebak baik di perbankan, lembaga perkreditan, bahkan sampai yang kecil-kecilan semacam dalam arisan warga. Entah mungkin kaum muslimin tidak mengetahui hakekat dan bentuk riba.
Mungkin pula mereka tidak mengetahui bahayanya. Apalagi di akhir zaman seperti ini, orang-orang begitu tergila-gila dengan harta sehingga tidak lagi memperhatikan halal dan haram. Sungguh, benarlah sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam,
لَيَأْتِيَنَّ عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لاَ يُبَالِى الْمَرْءُ بِمَا أَخَذَ الْمَالَ ، أَمِنْ حَلاَلٍ أَمْ مِنْ حَرَامٍ
“Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi peduli dari mana mereka mendapatkan harta, apakah dari usaha yang halal atau haram.” (HR. Bukhari no. 2083)
Oleh karena itu, sangat penting sekali materi diketengahkan agar kaum muslimin apa yang dimaksud dengan riba, apa saja bentuknya dan bagaimana dampak bahayanya. Allahumma yassir wa a’in. Ya Allah, mudahkanlah kami dan tolonglah kami dalam menyelesaikan pembahasan ini.
Seorang Pedagang Haruslah Memahami Hakekat Riba
As Subkiy dan Ibnu Abi Bakr mengatakan bahwa Malik bin Anas mengatakan,
فَلَمْ أَرَ شَيْئًا أَشَرَّ مِنْ الرِّبَا ، لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَذِنَ فِيهِ بِالْحَرْبِ
“Aku tidaklah memandang sesuatu yang lebih jelek dari riba karena Allah Ta’ala menyatakan akan memerangi orang yang tidak mau meninggalkan sisa riba yaitu pada firman-Nya,
فَأْذَنُوا بِحَرْبٍ مِنْ اللَّهِ وَرَسُولِهِ
“Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu (disebabkan tidak meninggalkan sisa riba).” (QS. Al Baqarah: 279)
‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata,
لَا يَتَّجِرْ فِي سُوقِنَا إلَّا مَنْ فَقِهَ أَكْلَ الرِّبَا .
“Janganlah seseorang berdagang di pasar kami sampai dia paham betul mengenai seluk beluk riba.”
‘Ali bin Abi Tholib mengatakan,
مَنْ اتَّجَرَ قَبْلَ أَنْ يَتَفَقَّهَ ارْتَطَمَ فِي الرِّبَا ثُمَّ ارْتَطَمَ ثُمَّ ارْتَطَمَ
“Barangsiapa yang berdagang namun belum memahami ilmu agama, maka dia pasti akan terjerumus dalam riba, kemudian dia akan terjerumus ke dalamnya dan terus menerus terjerumus.” (Mughnil Muhtaj, 6/310)
Apa yang Dimaksud dengan Riba?
Secara etimologi, riba berarti tambahan (al fadhl waz ziyadah). (Lihat Al Mu’jam Al Wasith, 350 dan Al Misbah Al Muniir, 3/345). Juga riba dapat berarti bertambah dan tumbuh (zaada wa namaa). (Lihat Al Qomus Al Muhith, 3/423)
Contoh penggunaan pengertian semacam ini adalah pada firman Allah Ta’ala,
فَإِذَا أَنْزَلْنَا عَلَيْهَا الْمَاءَ اهْتَزَّتْ وَرَبَتْ
“Maka apabila Kami turunkan air di atasnya, niscaya ia bertambah dan tumbuh subur.” (QS. Fushilat: 39 dan Al Hajj: 5)
Sedangkan secara terminologi, para ulama berbeda-beda dalam mengungkapkannya.
Di antara definisi riba yang bisa mewakili definis yang ada adalah definisi dari Muhammad Asy Syirbiniy. Riba adalah:
عَقْدٌ عَلَى عِوَضٍ مَخْصُوصٍ غَيْرِ مَعْلُومِ التَّمَاثُلِ فِي مِعْيَارِ الشَّرْعِ حَالَةَ الْعَقْدِ أَوْ مَعَ تَأْخِيرٍ فِي الْبَدَلَيْنِ أَوْ أَحَدِهِمَا
“Suatu akad/transaksi pada barang tertentu yang ketika akad berlangsung tidak diketahui kesamaannya menurut ukuran syari’at, atau adanya penundaan penyerahan kedua barang atau salah satunya.” (Mughnil Muhtaj, 6/309)
Ada pula definisi lainnya seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Qudamah, riba adalah:
الزِّيَادَةُ فِي أَشْيَاءَ مَخْصُوصَةٍ
“Penambahan pada barang dagangan/komoditi tertentu.” (Al Mughni, 7/492)
Hukum Riba
Seperti kita ketahui bersama dan ini bukanlah suatu hal yang asing lagi bahwa riba adalah sesuatu yang diharamkan dalam syari’at Islam. Ibnu Qudamah mengatakan,
وَهُوَ مُحَرَّمٌ بِالْكِتَابِ ، وَالسُّنَّةِ ، وَالْإِجْمَاعِ
“Riba itu diharamkan berdasarkan dalil Al Qur’an, As Sunnah, dan Ijma’ (kesepakatan kaum muslimin).” (Al Mughni, 7/492)
Bahkan tidak ada satu syari’at pun yang menghalalkan riba. Al Mawardiy mengatakan, “Sampai dikatakan bahwa riba sama sekali tidak dihalalkan dalam satu syari’at pun. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala,
وَأَخْذِهِمْ الرِّبَا وَقَدْ نُهُوا عَنْهُ
“Dan disebabkan mereka memakan riba, padahal Sesungguhnya mereka Telah dilarang daripadanya.” (QS. An Nisaa’: 161). Maksudnya adalah riba ini sudah dilarang sejak dahulu pada syari’at sebelum Islam. (Mughnil Muhtaj, 6/309)
Di antara dalil Al Qur’an yang mengharamkan bentuk riba adalah firman Allah Ta’ala,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَأْكُلُوا الرِّبَا أَضْعَافًا مُضَاعَفَةً وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Ali Imron: 130)
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا
“Padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS. Al Baqarah: 275)
Di antara dalil haramnya riba dari As Sunnah adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa memakan riba termasuk dosa besar.
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
« اجْتَنِبُوا السَّبْعَ الْمُوبِقَاتِ » . قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ ، وَمَا هُنَّ قَالَ « الشِّرْكُ بِاللَّهِ ، وَالسِّحْرُ ، وَقَتْلُ النَّفْسِ الَّتِى حَرَّمَ اللَّهُ إِلاَّ بِالْحَقِّ ، وَأَكْلُ الرِّبَا ، وَأَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ ، وَالتَّوَلِّى يَوْمَ الزَّحْفِ ، وَقَذْفُ الْمُحْصَنَاتِ الْمُؤْمِنَاتِ الْغَافِلاَتِ »
“Jauhilah tujuh dosa besar yang akan menjerumuskan pelakunya dalam neraka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa saja dosa-dosa tersebut?”
Beliau mengatakan, “[1] Menyekutukan Allah, [2] Sihir, [3] Membunuh jiwa yang diharamkan oleh Allah kecuali dengan alasan yang dibenarkan, [4] Memakan harta anak yatim, [5] memakan riba, [6] melarikan diri dari medan peperangan, [7] menuduh wanita yang menjaga kehormatannya lagi (bahwa ia dituduh berzina).” (HR. Bukhari no. 2766 dan Muslim no. 89)
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun melaknat para rentenir (pemakan riba), yang mencari pinjaman dari riba, bahkan setiap orang yang ikut menolong dalam mu’amalah ribawi juga ikut terlaknat.
Dari Jabir bin ‘Abdillah, beliau berkata,
لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- آكِلَ الرِّبَا وَمُوكِلَهُ وَكَاتِبَهُ وَشَاهِدَيْهِ وَقَالَ هُمْ سَوَاءٌ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat pemakan riba (rentenir), orang yang menyerahkan riba (nasabah), pencatat riba (sekretaris) dan dua orang saksinya.” Beliau mengatakan, “Mereka semua itu sama.”(HR. Muslim no. 1598)
Maksud perkataan “mereka semua itu sama”, Syaikh Shafiyurraahman Al Mubarakfury mengatakan, “Yaitu sama dalam dosa atau sama dalam beramal dengan yang haram. Walaupun mungkin bisa berbeda dosa mereka atau masing-masing dari mereka dari yang lainnya.” (Minnatul Mun’im fi Syarhi Shohihil Muslim, 3/64)
Dampak Riba yang Begitu Mengerikan
Sungguh dalam beberapa hadits disebutkan dampak buruk dari memakan riba. Orang yang mengetahui hadits-hadits berikut ini, tentu akan merasa jijik jika harus terjun dalam lembah riba.
[Pertama] Memakan Riba Lebih Buruk Dosanya dari Perbuatan Zina
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
دِرْهَمُ رِبًا يَأْكُلُهُ الرَّجُلُ وَهُوَ يَعْلَمُ أَشَدُّ مِنْ سِتَّةِ وَثَلاَثِيْنَ زَنْيَةً
“Satu dirham yang dimakan oleh seseorang dari transaksi riba sedangkan dia mengetahui, lebih besar dosanya daripada melakukan perbuatan zina sebanyak 36 kali.” (HR. Ahmad dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani dalam Misykatul Mashobih mengatakan bahwa hadits ini shahih)
[Kedua] Dosa Memakan Riba Seperti Dosa Seseorang yang Menzinai Ibu Kandungnya Sendiri
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الرِبَا ثَلاَثَةٌ وَسَبْعُوْنَ بَابًا أيْسَرُهَا مِثْلُ أَنْ يَنْكِحَ الرُّجُلُ أُمَّهُ وَإِنْ أَرْبَى الرِّبَا عِرْضُ الرَّجُلِ الْمُسْلِمِ
“Riba itu ada 73 pintu (dosa). Yang paling ringan adalah semisal dosa seseorang yang menzinai ibu kandungnya sendiri. Sedangkan riba yang paling besar adalah apabila seseorang melanggar kehormatan saudaranya.” (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dilihat dari jalur lainnya)
[Ketiga] Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah Ta’ala
Tersebarnya riba merupakan “pernyataan tidak langsung” dari suatu kaum bahwa mereka berhak dan layak untuk mendapatkan adzab dari Allah ta’ala. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِذَا ظَهَرَ الزِّناَ وَالرِّبَا فِي قَرْيَةٍ فَقَدْ أَحَلُّوْا بِأَنْفُسِهِمْ عَذَابَ اللهِ
“Apabila telah marak perzinaan dan praktek ribawi di suatu negeri, maka sungguh penduduk negeri tersebut telah menghalalkan diri mereka untuk diadzab oleh Allah.” (HR. Al Hakim. Beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan lighoirihi)

NASEHAT YANG LEBIH MANIS DARI PADA MADU



 Dikutip dari buku “lelaki yang paling bahagia di dunia” karangan syaikh Aidh Al-Qarni

 0. mulailah harimu dengan sholat fajr dan doa-doa di pagi hari agar kau mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan
 1. lanjutkan dengan istighfar agar syetan menghindar darimu
 2. jangan putus berdoa, karena sesungguhnya doa merupakan tali kesuksesan
 3. ingatlah bahwa apapun yg kau katakan akan dicatat oleh malaikat
 4. senantiasalah optimis meskipun engkau dalam puncak kesusahan
5. bahwa keindahan jari jemari karena ia terikat dengan tasbih
 6. jika engkau menghadapi kegelisahan dan berbagai kegundahan maka ucapkanlah “laa ilaaha illallahu”
 7. belilah dengan uang dirhammu (berinfaklah) untuk mendapatkan doa orang fakir dan kecintaan orang miskin
 8. sujud panjang dengan khusyuk itu lebih baik daripada istana2 yang mgah.
 9. berfikirlah sebelum berkata, bisa jadi satu perkataanmu bisa mematikan (menyakiti hati orang)
 10. berhati hatilah terhadap doa orang yang didholimi dan air mata orang yang terampas haknya
 11. Sebelum engkau membaca buku, koran dan majalah, bacalah terlebih dahulu AlQur’an
 12. jadilah kau sebab bagi keistiqomahan keluargamu
 13. bersungguh-sungguhlah jiwamu melaksanakan ketaatan, karena jiwa manusia itu senantiasa mengajak kepada keburukan
 14. Ciumlah telapak tangan kedua orangtuamu, kau pasti mendapatkan keridhoan
 15. Baju-baju lamamu merupakan baju baju baru menurut orang orang fakir
 16. janganlah kau marah, karena hidup ini sangat singkat dari yang kau bayangkan
 17. Engkau senantiasa bersama dzat yang maha kuat maha kaya, dialah Allah ‘azza wa jalla,
 18. Jangan kau tutup pintu terkabulnya doa dengan melakukan maksiat
 19. sholat adalah sebaik baik penolongmu dalam menghadapi berbagai musibah dan kelelahan
 20. hindari berburuk angka, kau akan mendapatkan ketenangan dan kenyamanan
 21. penyebab dari segala kegundahan adalah berpaling dari ALLAH, maka segeralah menuju kepada Nya.
 22. Sholatlah kau, karena sholatmu akan menemanimu di kubur
 23. jika kau mendengar orang yang meggunjing (ghibah) maka katakanlah padanya: bertaqwalah kau kepada ALLAH
 24. dawamkanlah (senantiasa) kau baca surat Tabarak (sural Al Mulk) karena ia adalah penyelamat
 25. orang yang mahruum (terhalang dari rahmat Allah) adalah orang yang terhalang dari mengerjakan sholat dg khusyuk dan mengalirkan air mata
 26. Jangan kau hina orang mukmin yang sedang lalai
 27. jadikanlah semua rasa cinta itu karena ALLAH dan Rasul Nya
 28. maafkanlah orang yang menggunjingmu, karena dia telah menghadiahkan kebaikannya untukmu
 29. sholat, tilawah, dzikir, merupakan hiasan damu
 30. barangsiapa mengingat panasnya neraka maka ia akan bersabar terhadap dorongan untuk melakukan maksiat
 31. selama qiyamullail ditegakkan, maka segala penyakit akan hilang, krisis akan berlalu, dan kesusahan akan lenyap
 32. jauhilah “katanya dan katanya” karena kau masih punya pekerjaan bak gunung
 33. Kerjakanlah sholat dengan khusyuk, karena segala hal yang menantimu selain sholat itu lebih rendah urusannya daripada sholat
 34. jadikanlah mushaf senantiasa disisimu, karena membaca satu ayat Al-Quran itu lebih baik daripada dunia dan isinya
 35. kehidupan itu indah, dan lebih indah lagi jika kau sartai iman.
 Ana telah mengirimkan pesan ini kepada orang2 yang ana cintai, maka kirimkanlah pesan ini kepada orang2 yang anta/i cintai.

Laa ma’buda bihaqqin illallah !!!

Laa ma’buda bihaqqin illallah !!!


A : “Pak dosen, bisa tolong jelaskan ke ana apa makna dari kalimat ‘Laa ilaaha illallah’?”

B : “Baiklah, akan ana jelaskan, dengarkan baik2…
Kalimat Laa ilaaha illallah mempunyai 2 makna, yaitu:
1. Tidak ada Tuhan selain Allah.
2. Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar).”

A : “Tidak ada tuhan selain Allah? Apa arti dari kata ‘Tuhan’ pada kalimat tersebut, pak dosen?”
B : “Tuhan artinya Sang Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta.”

A : “Kalau Tuhan diartikan hanya sebagai Sang pencipta, pemberi rizki, dan pengatur alam semesta, berarti orang2 musyrikin Mekkah pada zaman Nabi Muhammad juga termasuk muslim, bukan orang musyrik, tapi kenapa mereka diperangi sama Nabi?”

B : “Siapa yang bilang kalo mereka juga muslim?? Mereka tetap musyrik!”

A : “BUkankah mereka juga mengakui dan mempercayai kalau Tuhan mereka adalah Allah, yang telah menciptakan mereka, memberi rizki mereka dan mengatur alam semesta ini?!
Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Katakanlah, ’Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup, dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab,’Allah’” (QS. Yunus [10]: 31).
Ayat tersebut ditujukan kepada kaum musyrikin pada waktu itu yang juga menyakini bahwa Tuhan  mereka adalah Allah sebagai Pencipta, Pemberi rizki, dan Pengatur alam semesta. Kalau mereka mengakui juga seperti itu, lantas kenapa mereka tetap musyrik dan diperangi??”

B : (Glek…!) “Maaf, Tuhan itu bermakna Sesembahan. Jadi Laa ilaaha illallah maknanya adalah ‘Tidak ada sesembahan selain Allah’.”

A : “Tidak ada sesembahan selain Allah??… Hmmm….
Berarti Nabi Isa adalah Allah? Sesembahannya kaum musyrikin Mekkah seperti Wadd, Suwa, Yaghuts, Ya’uq, Nasr, Latta, Uzza, dan Manat semuanya adalah Allah?”

B: “Tidak! Siapa yang bilang mereka adalah Allah? Mereka adalah berhala2, bukan Allah!”

A : “Coba bapak cermati, kalimat ‘Tidak ada sesembahan kecuali Allah’, artinya sama dengan ‘Semua sesembahan adalah Allah’. Contoh lain adalah ketika kita mengatakan, ‘Tidak ada pendaki gunung kecuali memiliki senter’ maka artinya sama dengan ‘Semua pendaki gunung memiliki senter.”
Berarti semua sesembahan yang disembah di dunia ini adalah Allah? Jika mengikuti makna dari pemahaman bapak.
Firman Allah Ta’ala, “Mereka mengambil sesembahan-sesembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan” (QS. Yasin [36]: 73).
Kesimpulannya, memaknai ‘laa ilaaha illallah’ dengan ‘tidak ada sesembahan selain Allah’ adalah tidak tepat karena realita menunjukkan bahwa di dunia ini terdapat sesembahan-sesembahan yang lain selain Allah Ta’ala. Bahkan Allah sendiri mengakui bahwa memang terdapat sesembahan selain Dia.”

B : “Jadi, apa makna yang benar dari kalimat Laa ilaaha illallah menurut anda?”

A : “Makna yang tepat adalah La ma’buda bihaqqin illallah, yaitu tidak ada sesembahan yang berhak (benar) disembah kecuali Allah, atau Laa ilaaha haqqun illallah. Dalilnya firman Allah Ta’ala yang artinya, “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah (sesembahan) yang haq (benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka sembah selain Allah itulah (sesembahan) yang batil” (QS. Luqman [30]: 31).
Inilah kenapa kaum musyrikin Mekkah enggan menerima dan mengucapkan kalimat ini. kalimat ini menuntut kita untuk menyembah hanya kepada Allah ta’ala dan mengingkari segala sesembahan selain-Nya, entah itu malaikat, nabi, orang salih, jin, matahari, pohon, apalagi batu. Dan orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah harus meyakini bahwa segala bentuk ibadah, entah itu shalat, puasa, nadzar, sembelihan, meminta perlindungan dan keselamatan, dan lain sebagainya hanya boleh ditujukan kepada Allah.”

B : “Anda telah berbuat Bid’ah! Anda telah menambahkan kalimat lain kedalam kalimat Laa ilaaha illallah, menjadi Laa ilaaha haqqun illallah atau La ma’buda bihaqqin illallah. Kenapa kalimat tersebut ditambahkan dengan kata ‘haqqun’? Apakah itu bukan bid’ah?”

A : “Dijelaskan oleh ulama, karena kaidah bahasa Arab menuntut agar kalimat tersebut disampaikan secara ringkas, namun dapat difahami oleh setiap orang yang mendengarnya. Meskipun kata ‘haqqun’ dibuang, namun orang-orang musyrik jahiliyyah dahulu telah memahami bahwa ada satu kata yang dibuang (yaitu ‘haqqun’) dengan hanya mendengar kalimat “laa ilaaha illallah”. Karena bagaimanapun, orang-orang musyrik jahiliyyah adalah masyarakat yang fasih dalam berbahasa Arab. (Lihat At-Tamhiid, hal. 77-78).
Yang sebenarnya bid’ah adalah ketika kalimat tersebut diartikan dengan makna yang tidak sesuai dengan makna sebenarnya, yaitu seperti mengartikan Tuhan sebatas keyakinan orang-orang awwam, atau mengartikan menjadi ‘Tidak ada tuhan (“t” kecil) selain Tuhan (“t” besar)’. Wallahu a’lam.”

Sabtu, 07 Mei 2016

Renungan.mengenai sholat

Renungan.
Apabila kita ingin mendirikan solat maka mulakan dgn langkah tertipnya, sekiranya kita melaksanakan dimasjid2 berjemaah, itu satu perkara yg afdal dan yg disarankan oleh Rasulullah s.a.w.
Apabila kita sudah ada di dalam saf, langkah kita dgn langkah kaki kanan dahulu diatas barisan saf dgn menyebut Allah kaki kanan dan kiri Akhbar.
Angkat tangan doa didalam hati (Ya Allah, terimalah amal ibadah dari hambamu yg dhoif ini)-
Kemudian mengucaplah 2 kalimah syahadah, Selawat atas nabi lahaulawala quataillabilla....bacalah al ikhlas 1x
Pejam mata seketika, tenang...kemudian tarek nafas perlahan2 lembut tahan sedetik maka lepaskan nafas seraya menyebut lafas niat.
tarek nafas kembali halus dan lembut lakukan pula perbuatannya dan sebutlah dgn ikhlas ALLAH AKHBAR..
Sambil kiam.
Kemudian tarek nafas lembut sampai kedada kempis kan perut lembut lepaskan nafas seraya menyebut doa iftitah sampai mana yg kita mampu, ulang2 kan kaedah itu berulang2 sehingga selesai bacaan kita.

Apabila membaca tawauz/isti'azah tenang dan tarek nafas dari hidung perlahan tenang dan lembut hingga ke dada dan kempiskan perut dan lepaskan nafas seraya sebutlah ucapannya, dan begitulah dlm bacaan basmallah dan al fatehah dan semua bacaan2 didalam solat.
Cuba praktikkannya, lembut dan ikhlas, kita akan dapat rasakan suasana ibadah itu dlm keadaan tenang dada bergetar yg mampu melahirkan rasa sebak didada sehingga kita sendiri tidak mampu menahannya,.
insha Allah, cubalah pujuk2 hatimu itu agar lembut, sepertimana yg kita faham dan kita selalu katakan Allah itu begitu dan begini. Rasakan kebesaranNya dan KebenaranNya.

Senin, 02 Mei 2016

ADAB UTANG PIUTANG


1. Jangan pernah tidak mencatat utang piutang.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَدَايَنتُم بِدَيْنٍ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى فَاكْتُبُوهُ ۚ... سورة البقرة 282
"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian melakukan utang piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kalian menuliskannya." (QS Al-Baqarah: 282)
2. Jangan pernah berniat tidak melunasi utang.
عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِيَ اللَّهَ سَارِقًا . رواه ابن ماجة 2410
"Siapa saja yang berutang, sedang ia berniat tidak melunasi utangnya, maka ia akan bertemu Allah sebagai seorang PENCURI." (HR Ibnu Majah ~ hasan shahih)
3. Punya rasa takut jika tidak bayar utang, karena alasan dosa yang tidak diampuni dan tidak masuk surga.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ " . رواه مسلم 1886
"Semua dosa orang yang mati syahid diampuni KECUALI utang". (HR Muslim)
4. Jangan merasa tenang kalau masih punya utang.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ " مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِيَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ " . رواه ابن ماجة 2414
"Barangsiapa mati dan masih berutang satu dinar atau dirham, maka utang tersebut akan dilunasi dengan (diambil) amal kebaikannya, karena di sana (akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham." (HR Ibnu Majah ~ shahih)
5. Jangan pernah menunda membayar utang.
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ " مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ، فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ ". رواه البخاري 2287 ، مسلم 1564 ، النسائي 4688 ، ابو داود 3345 ، الترمذي 1308
"Menunda-nunda (bayar utang) bagi orang yang mampu (bayar) adalah kezaliman." (HR Bukhari, Muslim, Nasai, Abu Dawud, Tirmidzi

KISAH PENCIPTAAN MALAIKAT JIBRIL


Tatkala Allah menciptakan Malaikat Jibril AS, dipilihlah wujud yang paling rupawan. Maka ia dilengkapi dengan 600 sayap. Masing-masing sepanjang jarak antara penjuru paling timur sampai penjuru paling barat. Begitu penciptaan selasai, berdirilah malaikat Jibril memandangi dirinya yang sangat rupawan.
Dan berkata, "Ya Allah..ya Tuhanku, adakah Engkau menciptakan mahluk yang lebih rupawan daripada aku? Allah menjawab, "Tidak ada yg Aku ciptakan yg lebih rupawan daripada engkau ya Jibril".
Mendengar jawaban Allah seperti itu, perasaan Jibril pun berbunga bunga tiada tara.
Sebagai ungkapan rasa syukurnya yang mendalam, ia kemudian mengerjakan shalat 2 rakaat, yang setiap rekaatnya dilakukan selama 20.000 (dua puluh ribu)tahun..Subhanallah, luar biasa dahsyatnya ungkapan rasa syukur malaikat jibril kepada Allah SWT.
Setelah malaikat Jibril selasai mengerjakan shalatnya, Allah SWT berfirman kepadanya, " Hai jibril, begitu bersungguh-sungguh engkau mengerjakan shalat. Demikian engkau telah melakukan penyembahan kepadaKu dengan penyembahan yang tiada bandingnya. Tetapi ketahuilah hai jibril, bahwa pada akhir zaman nanti akan lahir Nabi terhormat yang Aku sayangi, dia bernama Muhammad".
Ia memiliki umat yang lemah, yang banyak melakukan dosa. Sekiranya umat yang bergelimang dosa itu mau mengerjakan shalat dua rakaat, sekalipun shalatnya banyak kekurangan, waktunya pun tergesa- gesa dan tidak konsentrasi, maka demi Kemuliaan dan keagungan-Ku, sungguh shalat mereka itu lebih Aku sukai dari pada shalatmu! Mengapa? Karena shalat mereka berdasarkan perintah-Ku, sedangkan shalatmu itu bukan berdasarkan perintah-Ku
Jibril kemudian bertanya, "Ya Allah, lalu apakah balasan yang bakal Engkau berikan atas 'ibadah mereka?".
Allah menjawab, "Balasan yang bakal Aku berikan unt mereka adalah Surga Ma'wa".
Begitu mendengar kata2 surga Ma'wa, malaikat Jibril memohon izin kepada Allah agar diperkenankan melihatnya. Allah pun mengabulkan permohonan Jibril ini, dan langsung berangkat menuju Surga tsb.Dia bentangkan sayapnya, lalu terbang untuk menempuh jarak yang amat jauh...
Setiap kali ia membuka sepasang sayapnya, maka berarti dia menempuh jarak sejauh 300.000 (tiga ratus ribu)tahun perjalanan. Begitu juga setiap menutupkan sayap, padahal ia terbang selama tiga ratus ribu tahun serta memiliki sayap tiga ratus pasang sayap atau enam ratus sayap.Namun sejauh itu ia belum juga berhasil mencapai tujuannya.
Ketika merasa begitu letih, Jibril beristirahat disebuah pohon raksasa, kemudian ia bersujud kepada Allah SWT seraya mengadu, "Ya Allah, apakah perjalananku telah sampai separonya, ataukah baru dua pertiga atau bahkan separonya?".
Allah SWT berfirman kepadanya, "Hai Jibril, walaupun kau mampu terbang selama tiga ratus ribu tahun dengan sayap-sayapmu yang sudah ada dan Aku tambah lagi enam ratus sayap, niscahya tidak akan kau bisa mencapai seper seratusnya (1%). Itulah keistimewaan yang akan Aku berikan kepada umat Muhammad yang mau mengerjakan shalat!".
Subhanallah..Betapa Allah begitu memuliakan Manusia. Sementara kita, manusia ini demikian mudahnya melupakan- Nya. Marilah kita senantiasa bersyukur karena telah ditaqdirkan kita menjadi umat Nabi Muhammad SAW...

":::JAWABAN KETIKA ORANG KIRIM SALAM PADA ANDA:::"


" Mungkin kita yang mendapat kiriman salam atau terkadang kita yang dititipi salam, baik dari orang lain, teman ataupun keluarga, baik secara langsung atau melewati surat atau sms.
Terinspirasi hal tersebut, bagaimana seharusnya cara menjawab "kiriman salam" dari seseorang.
Sebagai rujukan atas masalah tersebut adalah kitab Al Adzkar An Nawawi yang menjelaskan dalil tentang kirim / jawab salam.
وروينا في سنن أبي داود عن غالب القطان عن رجل قال: حدثني أبي عن جدي، قال: بَعَثَنِي أَبِي إِلَى رَسُوْلِ الله - صلى الله عليه وسلم - فقال: اِئْتِهِ فَأَقْرِئْهُ السَّلامَ، قَالَ: فَأَتَيْتُهُ فَقُلْتُ : إنَّ أَبِي يُقْرِئُكَ السَّلاَمَ، فَقَالَ : عَلَيْكَ وَعَلَى أَبِيْكَ السَّلاَمُ.
Diriwayatkan dalam Sunan Abu Daud dari Gholib Al Qotthon dari seseorang yg berkata, ayahku telah memberitahuku dari kakekku, dia berkata : "Ayahku mengutusku kepada Rosulullah SAW dan berkata ; Temuilah Rosulullah dan sampaikan untuknya salam. Maka aku mendatangi Rosulullah dan kukatakan, "Sesungguhnya ayahku menyampaikan salam untuk Engkau", maka Rosulullah menjawab : "Alaika wa 'ala abiika assalam (semoga keselamatan atasmu dan juga ayahmu)"
"Wa'alaikum salam"
Ini adalah jawab kita jika ada seseorang yg mengucap salam kepada kita.
Sebagaimana kita maklumi, hukum menjawab salam adalah wajib. Dan arti dari salam tersebut adalah doa keselamatan.
Begitu juga dengan kiriman salam, maka kita juga wajib menjawabnya seketika/langsung setelah kita mendengar atau mendapatkannya.
Namun jika kita hanya mengucap "wa'alaikum salam", kita hanya mendoa'kan orang yg mengucap salam saja. Sedangkan yang mengirim salam tidak mendapat doa kita, ini menurut tata bahasa Arabicnya.
"wa'alaikum salam" berarti "semoga keselamatan juga terlimpah atasmu"
Maka untuk "kirim salam" ini terdapat tambahan lafadz yang berbeda sesuai dengan jenis kelamin pengucap dan pengirim salam, laki-laki (mudzakkar) atau perempuan (mu'annats)
Misalnya :
1. Ahmad berkata :
"Ya Ali..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
2. Fatimah berkata :
"Ibu..., Kakek kirim salam untuk Ibu"
maka untuk "kirim salam" di atas :
1. Ali menjawab : 'alaika wa 'alaihas salam
semoga keselamatan juga atasmu
(Ahmad) dan dia (Bibi Aminah)
2. Ibu menjawab : 'alaiki wa 'alaihis salam
semoga keselamatan juga atasmu
(Fatimah) dan dia (Kakek)
Pembeda dari jawaban di atas intinya terletak pada akhir kata yg menunjukkan jenis kelamin.
"ka" = kamu (laki-laki) "hi" = dia (laki-laki)
"ki" = kamu (perempuan) "ha" = dia (perempuan)
Dari kedua contoh di atas terdapat perbedaan jenis pelaku, baik pengucap maupun pengirim salam. Untuk itu cara menjawab "kirim salam"nya pun menjadi berbeda disesuaikan dengan kaidah tata bahasa Arab.
Pada dasarnya jika kita mendapat "kirim salam", pasti kita sudah mengetahui siapa orang yg sedang ucap salam atau yg mengirim salam kepada kita, laki-laki kah dia atau perempuan. Nah inilah yang menjadi pembeda bentuk grammer jawaban salam kita.
Beberapa bentuk lafadz cara menjawab "kirim salam" adalah sebagai berikut :
1. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam laki-laki
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., Hasan kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihis salam
2. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam perempuan
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihas salam
3. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam perempuan
contoh : Zahra berkata, "Zein..., Bibi Aminah kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihas salam
4. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam laki-laki
contoh : Zahra berkata, "Zein..., Hasan kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihis salam
5. Pengucap salam laki-laki dan pengirim salam dua orang lebih
contoh : Ahmad berkata, "Zein..., jama'ah majelis kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaika wa 'alaihimus salam
6. Pengucap salam perempuan dan pengirim salam dua orang lebih
contoh : Zahra berkata, "Zein..., jama'ah majelis kirim salam untukmu"
Jawabnya = 'alaiki wa 'alaihimus salam
Ini adalah beberapa bentuk jawaban "kirim salam" menurut tata bahasa Arabicnya, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita demi kesempurnaan Syiar Islam terutama dalam menyebarkan salam.
Segala kebenaran datangnya dari Allah SWT, dan kesalahan berasal dari alfaqir karena minimnya pengetahuan.
والله الموفق وأعلم بالصواب
Allah yang memberi taufiq dan lebih mengetahui kebenaran.SEMOGA BERMANFAAT .AMIN.

Selasa, 26 April 2016

CARA MENGUSIR TUMOR FIBROID

TOLONG''DICATAT DAN PAHAMI INILAH CARA MENGUSIR TUMOR FIBROID DALAM BENTUK KUTIL TAMPA HARUS PERGI KEDOKTER !!!

Tumor fibroid - Kutil, Cara Hapus Mereka Tanpa Pergi Untuk The Doctor

Tumor fibroid adalah tumor jinak pada jaringan ikat. Mereka muncul sebagai kutil pada kulit dengan ukuran hanya beberapa milimeter. Mereka biasanya memiliki warna yang sama dengan kulit, tetapi mereka dapat berpigmen juga. Tumor fibroid tidak kanker, tetapi masalah dari sudut pandang estetika.

Tumor fibroid sebagian besar terjadi pada orang paruh baya pada daerah leher, ketiak, perut, bawah payudara, kelopak mata dan di mana-mana pada kulit. Setiap orang memiliki setidaknya satu fibroma pada kulit, sehingga tidak kondisi langka.

Mereka juga bisa rusak dan menyebabkan peradangan, pertumbuhan, perdarahan, dll Jumlah mereka meningkat dengan usia. Tidak ada alasan untuk pembentukan mereka tumor fibroid masih dikenal, tapi genetika dan obesitas tentu berperan. Mereka dapat bervariasi dalam jumlah - dari beberapa beberapa ratus.
Tumor fibroid mudah dihapus dengan cuka sari apel, tanpa perdarahan dan jaringan parut. Cuka sari apel adalah salah satu pengobatan rumah yang paling efisien. Namun, tidak menghapus fibroma sekitar mata dengan cuka sari apel karena dapat mengiritasi mereka!

Berikut adalah cara menggunakan cuka sari apel untuk menghilangkan tumor fibroid:

Cuci daerah sekitar fibroma hanya menggunakan air dan sabun. Hanya pertama kali, gunakan kapas yang dibasahi air untuk membersihkan fibroma dan biarkan kering. Kemudian, rendam sepotong kapas dalam cuka sari apel dan memeras kelebihan cairan. Tempatkan kapas di fibroma dan menempatkan bantuan band di atasnya. Biarkan selama 15 menit, lalu bilas dengan air. Ulangi prosedur tiga kali sehari selama seminggu. Fibroma akan mulai gelap dan akhirnya jatuh.

Tergantung pada ukuran fibroma, bisa ada bekas luka ringan, yang dapat Anda memperlakukan dengan calendula krim atau gel Aloe Vera. Jika fibroma adalah pada permukaan kulit, tidak akan ada bekas luka

Jumat, 26 Desember 2014

AWALUDDIN MAKRIFATULLAH

Terimakasih tuan..
AWALUDDIN MAKRIFATULLAH
Islam adalah iman , ilmu dan amal .
Iman adalah persoalan aqidah atauk.
Ilmu dan amal pula, ada yang berbentuklahiriah dan ada yang berbentuk
batiniah atau rohaniah.
Bertolak dari aqidah, maka timbullah keperluan untuk beribadah sama
ada ibadah lahir mahupun ibadah batin.Setelah Tuhan dikenali,
dicintai dan ditakuti, maka akan terdoronglah kita untuk menyembah dan
mengagungkan- Nya dan untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Akan
terdoronglah kita untuk melaksanakan segala suruhan dan meninggalkan
segala larangan-Nya. Akan terdoronglah kita untuk patuh dan taat
kepada-Nya. Akan terdoronglah kita untuk berjuang dan berkorban
kerana-Nya.
Ilmu lahiriah ialah ilmu feqah yang bersangkut paut dengan amalan
lahir. Ilmu batiniah atau rohaniah pula ialah ilmu tasawuf yang
bersangkut paut dengan amalan hati. Amalan sama ada yang lahir atau
yang batin mestilah didorong oleh aqidah. Ia mesti didorong oleh rasa
cinta dan takut kepada Allah . Barulah amalan itu akan bermakna dan
akan mempunyai erti dan maksud yang betul. Amalan adalah jalan, kaedah
atau cara untuk membukti dan merealisasikan rasa cinta dan rasa takut
kita kepada Allah.
Bila Allah sudah dikenali, barulah kita betul-betul boleh
mempraktikkan atau melaksanakan agama. Barulah Allah itu menjadi
matlamat dan tumpuan ibadah dan pengabdian kita. Barulah amalan kita
itu ada tempat tujunya. Barulah akan terjalin dan tercetus hubungan
antara hamba dengan Tuhannya. Dalam beragama, kenal Allah itu perkara
pokok yang mesti didahulukan. Selepas itu baru timbul soal amalan. Ini
sesuai dengan hadis yang bermaksud :"Awal-awal agama mengenal Allah"
Amalan agama yang tidak didahului oleh rasa cinta dan rasa takut
kepada Allah sudah tentu tidak akan membawa kita kepada-Nya. Sudah
pasti ia didorong oleh perkara-perkara dan kerana-kerana yang lain.
Mungkin kerana mahukan Syurga. Mungkin kerana takutkan Neraka. Mungkin
kerana mahukan pahala dan fadhilat. Walaupun tujuan-tujuan ini tidak
salah kerana ianya sebahagian dari janji-janji Tuhan, tetapi maqamnya
terlalu rendah. Justeru itu hasil dan manfaat dari ibadah seperti ini
juga adalah rendah.
Ibadah yang didorong oleh perkara-perkara seperti ini, walaupun
banyak, tidak akan dapat mengubah akhlak dan peribadi kita. Ia tidak
akan menimbulkan rasa bertuhan dan rasa kehambaan di dalam hati kita.
Kerana itu, ia tidak akan mampu menyuburkan sifat-sifat mahmudah dan
membakar sifat-sifat mazmumah yang bersarang di hati kita. Ini kerana
Tuhan tidak dilibatkan dan tidak dijadikan matlamat dalam ibadah kita.
Kalau Tuhan tidak dilibatkan, maka hati akan kurang berperanan kerana
hati itu wakil Tuhan. Ibadah yang tidak ada Tuhan ini sudah tentu
tidak ada rohnya, tidak ada rasanya dan tidak ada khusyuknya. Bila
hati tidak berperanan, maka tidak akan ada penghayatan dan penjiwaan
dalam ibadah.
Tambahan pada itu ibadah kerana hendakkan Syurga, pahala dan fadhilat
dan kerana takutkan Neraka ini adarisikonya. Disebabkan Tuhan dan
hati tidak dilibatkan sama dalam ibadah seperti ini, maka ibadah ini
tidak ada kekuatannya. Lama kelamaan, ia akan dicelahi dengan rasa
bosan dan jemu. Sukar hendakdiistiqamahkan. Ia juga mudah dihinggapi
penyakit riyak, ujub dan sum'ah. Ini semua akan memusnahkan pahala
ibadah. Lebih-lebih lagilah kalau tujuan dan niat ibadah itu adalah
untuk dipuji, untuk disanjung, untuk mendapat nama dan glamour, untuk
menunjuk-nunjuk dan kerana sebab-sebab lain yang berbentuk duniawi.
Sudah tentulah ia tidak ada nilai apa-apa. Malahan ibadah seperti ini
akan Allah lemparkan semula ke muka pengamalnya berserta dengan
laknat-Nya sekali. Ibadah seperti ini tidak akan mendekatkan seseorang
itu dengan Allah. Malahan dia akan bertambah jauh dari Allah. Dia
berbuat maksiat dan kemungkaran dalam ibadahnya. Lagi banyak dia
beribadah, lagi dia rasa sombong, angkuh, riyak, ujub, rasa diri
mulia, rasa diri baik dan sebagainya. Lagi banyak dia beribadah, lagi
dia pandang orang lain hina, jahat dan tidak berguna.
Beramal dalam Islam ada tertibnya. Ada urutan dan susunannya. Ada
"progression" nya dari satu tahap ke tahap yang lebih tinggi. Ia
bermula dengan Syariat , kemudian dengan Tariqat , diikuti pula dengan
hakikat dan diakhiri dengan Makrifat .
Syariat.
Ini adalah ilmu sama ada ilmu bagi amalan, lahir (feqah) atau ilmu
bagi amalan hati (tasawuf). Ini adalah langkah pertama dalam tertib
beramal. Ia melibatkan ilmu tentang peraturan, hukum-hakam, halal
haram, sah batal dan sebagainya. Ilmu perlu dalam beramal. Tanpa ilmu,
kita tidak tahu macam mana hendak beramal mengikut cara yang Tuhan
mahu. Kalaupun kita sudah cinta dan takut dengan Tuhan dan kita
terdorong untuk menyembah-Nya, kita tidak boleh berbuat demikian ikut
sesuka hati kita atau ikut cara yang kita cipta sendiri. Tuhan tidak
terima, kita mesti ikut cara yang ditetapkan oleh Islam, kita mesti
belajar. Amalan tanpa ilmu itu tertolak. Ilmu atau syariat ini ibarat
biji benih.
Tariqat .
Ini adalah peringkat menghidupkan ilmu menjadi amalan sama ada amalan
lahir mahupun amalan hati secara istiqamah dan bersungguh-sungguh.
Ilmu (syariat) yang ada perlu dilaksanakan. Ini dinamakan juga tariqat
wajib dan ia tidak sama maksudnya dengan tariqat sunat yang
mengandungi wirid-wirid dan zikir-zikir yang menjadi amalan sesetengah
pengamal-pengamal sufi. Tariqat ini ibarat kita menanam biji benih
tadi (syariat) hingga ia bercambah, tumbuh dan menjadi sebatang pokok
yang bercabang dan berdaun.
Hakikat.
Hakikat adalah buah. Selepas kita ada syariat, kemudian kita amalkan
syariat itu hingga ia naik ke peringkat tariqat, yakni ia menjadi
sebatang pokok yang bercabang dan berdaun, maka kalau cukup
syarat-syaratnya maka pokok itu akan menghasilkan buah. Buah tariqat
adalah akhlak dan peningkatan peringkat nafsu atau pencapaian
maqam-maqam mahmudah. Boleh jadi ia menghasilkan maqam sabar , maqam
redha , maqam tawakkal , maqam tawadhuk , maqam syukur dan
berbagai-bagai maqam lagi. Boleh jadi hanya terhasil satu maqam sahaja
(sebiji buah sahaja) atau boleh jadi akan terhasil beberapa maqam yang
berbeza dari satu pokok yang sama. Hakikat adalah perubahan jiwa atau
perubahan peringkat nafsu hasil dari syariat dan tariqat yang dibuat
dengan faham dan dihayati.
Makrifat .
Ini adalah hasil dari hakikat, iaitu hal-hal hakikat yang dapat
dirasai secara istiqamah. Ia adalah satu tahap kemajuan rohaniah yang
tertinggi hingga dapat benar-benar mengenal Allah dan
rahsia-rahsia- Nya. Orang yang sudah sampai ke tahap ini digelar Al
Arifbillah

Jumat, 25 Oktober 2013

Al Muntahi (Bhg. 15 – selesai)



Al Muntahi (Bhg. 15 – Selesai)

30.      Jikalau masih ada lagi citanya, rasanya dan lazatnya itu bermakna sifatnya dua jua, seperti musyahadah pun dua lagi hukumnya. Dan jika lagi syuhud pun masih ada dua kehendaknya:
Seperti rasa, yang dirasa dan merasa pun hendaknya, seperti mencinta dan dicinta hendaknya, masih dua belum lagi esa.
Sekelian sifat itu pada iktibarnya dua juga, seperti ombak pada ombaknya laut pada lautnya,, belum mana (kembali ke) laut.
Apabila ombak dan laut sudah menjadi satu, muqabalah pun tidaklah, musyahadah pun tidaklah, makanya hanya fana dengan fana jua. Tetapi jika dengan fananya itupun, jika diketahuinya, maka belum bertemu dengan fana, kerana ia lagi ingat akan fananya. Itu masih lagi dua sifatnya.
31. Seperti kata Syeikh Attar:
Jalan orang berahi (kepada Allah)  yang wasil (sampai) kepada kekasihnya itu,
Akan orang itu satupun tidaklah dilihatnya,
Segala orang yang melihat dia itu, dan  alam itu pun tiadalah dilihatnya.
 
Lagi kata Syeikh Attar:
Jangan ada semata-mata, inilah jalan kamil,
Jangan bermuka dua, inilah sebenarnya wasil.

Kerana erti wasil bukan dua (tetapi esa). Yakni barangkala syak dan yakin tidaklah ada padanya, maka wasillah.
Namanya ilmu yakin, mengetahui dengan yakin, ainul yakin iaitu melihat dengan yakin, dan haqqul yakin iaitu sebenar yakin,,.. yakin adanya dengan ada Tuhannya esa jua.
Maksudnya apabila sempurna fakirnya (fana) maka ia itu Allah, (hati-hati mesti dapat maksud yang sebenar, jika tidak syirik dan kufur jua adanya).
Selesai,…

(Karangan Al Fakir Hamzah Fansuri.
Sufi Terkenal dari Indonesia – Semoga Allah memberikan Rahmat ke atas runya,
mari kita bersedekah Al Fatihah untuknya.)

Al Muntahi (bhg. 14)



bulan

Al Muntahi (bhg. 14)

28.      Inilah ertinya:  Yang fakir itu tiada suatu pun baginya. Maka firman Allah dalam Hadis Qudsi:

Tidur fakir itu tidurKu,

Makan fakir itu makanKu,

Dan minum fakir itu minumKu.

 

Dan lagi firman Allah: Manusia itu adalah RahsiaKu dan Aku Rahsianya dan Sifatnya.

Berkata pula Uways Al Qarani: Yang fakir itu hidup dengan hidup Allah, dan sukanya dengan Kesukaan Allah.

Seperti kata Mashaikh: Barangsiapa yang mengenal Allah maka ia akan menyengutukannya, dan barangsiapa mengenal dirinya maka ia itu kafir.

Seperti kata Syeikh Muhyil Din Ibnu Arabi:

Yang makrifat itu dinding bagiNya,

Bermula jikalau tiada wujud kedua (alam) nescaya nyatalah AdaNya.

 

29.      Kerana belajar dan makrifat, rindu dan merindu, sekeliannya itu, pada iktibarnya adalah sifat hamba juga, jikalau sekelian itu tiadalah padanya, maka lenyaplah ia. Kerana dzatnya dan sifatnya nisbat kepada Allah SWT jua, jikalau barangkala tiada ia, maka sifat hamba, seperti sifat ombak, pulang ke laut (Dzat).

Inilah makna Firman Allah QS  Fajr 89:28: Pulang kepada Tuhannya dengan reda dan diredai.  Dan makna QS Al Baqarah 2:156: Daripada Allah kami datang dan kepada Allah kami kembali.

Dan Firman Allah: QS Al Qashash 28:88: Tiap-tiap sesuatu binasa kecuali wajah Allah. Dan juga Firman Allah QS Ar Rahman 55:26,27: Segala sesuatu akan fana, dan yang kekal Dzat Tuhanmu yang empunya Kebesaran dan Kemuliaan.

Bersambung ke bahagian 15.

Al Muntahi (bhg 13)

Al Muntahi (bhg. 13)

LegindNikon04326. Di situlah tempat tinggal orang yang berahi kepada Allah, berahikan surga pun tidak, dengan neraka pun dia tidak takut, kerana pada orang berahi yang wasal jannah (sampai surga), itulah yang dikatakan dalam firman Allah QS Al Fajr 89:29,30:  Masuklah kamu dalam golongan hambaKu, dan  masuklah kamu ke dalam surgaKu.

Pulang ia kepada tempat perbandaharaan yang tersembunyi (Dzat Allah).

Seperti kata ahli makrifatullah: Barang siapa mengenal Allah maka ia itu musyrik (kenapa musyrik? Kerana ada dualiti).

Dan lagi kata ahli Allah: Yang fakir itu hitam (tiada) mukanya pada kedua negeri (Zahir dan batin,  yang ada hanya wajah Allah)

Dan Lagi: Aku telah karamlah pada laut yang tidak bersisi (Dzat Allah),

Maka lenyaplah aku di dalamnya,

Daripada ada dan tiada pun aku tiadalah tahu.

 

Kata syair:  Kembalilah aku daripada menuntut dan yang dituntut.

Dan berhimpunlah aku antara yang memberi kurnia dan yang dikurniai,

Dan kembalilah daripada aku bagi adaMu.

Tiada engkau di dalamnya dan tiada aku.

 Kata Syeikh Attar pula:  Daripadanya kembalilah, setengah  daripadanya melihat temasya tepuk dan tari,

Nyawa pun diberi selesailah ia daripada tuntut.

Lagi kata: Kertas pun dibakar dan pensel pun dipatahkan dan dakwat pun ditumpahkan dan nafas pun ditarik.

Inilah kisah ragam orang berahi bahawa dalam daftar tidak lulus (tidak dapat dikisahkan).

Lagi kata: Tuntut pun seteru dan kehendak pun sia-sia, dan wujud pun jadi dinding (hijab) tidak dapat diperolehi menghendaki damping dan cita, yang hadir segala nafs pun menjauhkan (menghijab).

 

27.  Inilah kesudahan sekelian, inilah yang dikatakan Fana, inilah yang dikatakan alam Lahut, pun dapat dan dikatakan wasal (sampai),  dikatakan mabuk (berahi Allah) pun dapat.

Inilah kata Shah Ali Barizi: Kepada pintu negeri yang Fana (yang tinggal hanya Allah) sujudlah aku.

Ku bukakan kepalaku, maka pertunjukanlah mukaMu kepadaku.

 Kata orang Pasai: Jika tidak tertutup maka tidak bertemu (Dzat Allah). Erti pada itu tidak lulus iaitu, menjadi seperti dahulu kala seperti di alam Lahut, tatkala dalam perbendaharaan tersembunyi, serta dengan TuhanNya.

Seperti biji benih dalam pohon kayu, sungguhpun zahirnya tidak kelihatan, hakikatnya Esa jua. Sebab itulah Mansur Al Halaj menyatakan: Ana al Hak (Akulah Hak), manakala setengah sufi yang lain menyatakan: Anallah (Aku Allah), kerana adanya (dirinya) tidaklah dilihatnya lagi (telah Fana, yang tinggal hanya Allah).

Bersambung ke bahagian 14.

Al Muntahi (bhg. 12)

bukit 

Al Muntahi  (bhg. 12)

24. Mengapa dikata bertemu dan bercerai  itu dua? Hendaknya pada Alim (yang mengetahui) hakikatnya  tiada dua. Seperti ombak dan laut esa jua, pada zahirnya jua dua, tetapi bertemu pun tidak bercerai pun tidak, di dalamnya tiada di luarnya pun tiada.

Seperti kata Ghawth: Mana kebaktian terlebih kepadaMu ya Tuhanku?

Firman Allah SWT: Sembahyang yang di dalamnya tiada  lain selain daripadaKu, dan yang menyembah ghaib.

Nyatalah daripada ini bahawa yang disembah pun Ia jua, yang menyembah pun Hak. Seperti kata Mashakikh:

Tiada mengenal Allah hanya Allah

Tiada mengetahui Allah hanya Allah

Tiada melihat Allah hanya Allah.

Dan lagi seperti kata Maulana Abdul Rahman Jami:

Orang yang  wasal (sampai) itu seperti orang yang duduk kesal;

Taulannya diceritakannya daripada penceraiannya

Dan seru dan tangisnya, sehingga jadi harum daripada wasal; terhenti olehnya

Daripada penceraiannya dan daripada penuh dengan dukacitanya.

Dan seperti kata Shibli:

Aku seperti katak tinggal  dalam laut

Jika kubukakan mulutku nescaya dipenuhi air;

Jika aku diam nescaya matilah aku dalam percintaanku.

25. Isyarat daripada Syeikh Sakdul Din: Jangan lagi dicari tidak akan diperolehi, jika lagi dipandang tiada dilihat, kerana perbuatan kita itu seperti angin di laut. Jikalau berhenti angin ombak pulang kepada asalnya.

Seperti Firman Allah QS Al Fajr 89: 27,28:

Hai jiwa-jiwa nan tenang (mutmainah), kembalilah kamu kepada Tuhanmu dengan reda dan diredai, maka masuklah ke dalam surga Ku.

Ertinya datangnya daripada laut (Dzat Allah), pulang pun kepada laut (Dzat Allah) jua.

Seperti kata-kata:

Syurga orang zahid (peribadah) bidadari dan mahligai,

Syurga orang berahi (kekasih) kepada perbendaharaan yang tersembunyi (Dzat Allah).

Bersambung ke bahagian 13.

Al Muntahi (bhg. 11)

Al Muntahi  (bhg. 11)

kubur bakei21.  Yakni yang asalnya tidak berwarna dan tidak berupa. Segala rupa yang dapat dilihat dan dapat dibicarakan, sekelian makhluk jua pada ibaratnya. Barangsiapa menyembah makhluk, ia itu musyrik (menyekutukan Allah), seperti menyembah orang mati,  jantung dan paru-paru, sekelian itu berhala jua hukumnya. Barangsiapa menyembah berhala, ia itu kafir…. kami berlindung dengan Allah daripadanya, Allah yang lebih mengetahui.

22. Jika demikian mengapa memandang seperti ombak dan laut?  (padahal kedua-duanya esa jua).

23. Seperti kata syair:

Bekas kaca dan hening air minuman

Maka serupa kedua-duanya  dan sebagai pekerjaannya

Maka sanya minuman tiada dengan piala

Dan bahawa piala tiada dengan minuman.

Yakni warna kaca dan warna minuman esa jua, warna minuman dan kaca begitu jua, tiada dapat dilainkan.

Seperti kata syair:

Asalnya satu jua warnanya berbagai-bagai

Rahsia ini bagi orang yang tahu jua dapat memakainya.

Dan lagi syair:

Berahi dan yang berahi dan yang diberahikan itu ketiga-tiganya esa jua

Sini apabila pertemuan tiada lulus, perceraian di mana kan ada?

Bersambung ke bahagian 12.

Al Muntahi (bhg. 10)


Al Muntahi (bhg. 10)

solat=kapal19. Pada zahirNya berbagai-bagai, tetapi pada DzatNya  tidak berbagai-bagai dan tiada berubah kerana Ia, seperti Firman Allah QS Al Hadid 57: 3.

Dia Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin.

AwalNya tidak ketahuan akhirNya tidak berkesudahan zahirNya amat tersembunyi dengan batinNya tidak kedapatan. Memandang diriNya dengan diriNya, melihat diriNya dengan DzatNya dengan SifatNya dengan AfaalNya dengan AtharNya (bekasnya). Sungguhpun namaNya empat tetapi hakikatNya esa.

Seperti kata Syeikh Muhyildin Arabi: Menunjukkan AdaNya dengan AdaNya.

Sementara itu, Imam Muhammad Ghazzali berkata: Alam ini daripadaNya dengan Dialah tetapi sekelianya Dia.

Kata Kimiyai Saadat:

Wujud kami daripadaNya dan kuasa kami dengan Dia,

Tiada bezanya antaraku dan Tuhanku melainkan dengan dua martabat. (martabat Tuhan dan martabat hamba).

Inilah ibarat kata-kata: Siapa yang mengenal dirinya mengenal ia Tuhannya.

 

20. Allah SAW tidak bertempat dan tidak bermisal. Mana ada tempat jika lain daripadaNya tiada? Mana tempat, mana misal, mana warna?

Hamba pun demikian lagi hendaknya jangan bertempat, jangan bermisal, jangan berjihat enam, kerana sifat hamba (adalah sifat) Tuhannya, seperti kata-kata berikut:

Apabila sempurna Fakir,  maka Ia itu Allah dan hidupNya dengan hidup Allah.

Maulana Abdul Rahman Jami berkata:

Kepada kekasih yang tidak berwarna itu (Allah) kau kehendak, hai hati

Jangan kau padamkan kepada warna mudah-mudahan, hai hati

Bahawa segala warna daripada tidak berwarna datangnya, hai hati

Barangsiapa mengambil warna daripada Allah itulah terlebih baik, hai hati !!!

 Bersambung ke bahagian 11.

Al-Muntahi (bhg. 7))

Forest 

 Al-Muntahi (bhg.7)

13. Hai Pelajar mengetahui siapa mengenal diri mengenal Tuhannya.” bukan mengenal jantung atau paru-paru,  bukan mengenal kaki dan tangan. Makna “siapa mengenal diri…” adanya dengan ada Tuhannya esa jua. Seperti kata Syeikh Junaid: Warna air itu warna bejananya” .

Seperti kata syair:

Sesungguhnya telah tersembunyilah engkau maka
tiada dapat dilihat oleh segala mata;
Maka betapa dilihat oleh segala mata
Kerana Ia terdinding oleh adaNya.

Kata Syeikh Muhyildin Arabi:

Jika pergilah aku menuntut Dia,
tiadalah berkesudahan tuntutku,
jika datang aku ke hadiratNya,
Ia liar daripadaku;
Tidak aku melihat Dia,
Ia tidak jauh daripada penglihatanku,
Bermula: Ia ada dalamku dan tiada aku bertemu pada seumurku.
 

Maka ini lagi kata Syeikh Junaid: Adamu ini dosa, tiada dosa sebagainya.

14. Barangkala engkau pun satu wujud, Hak SWT pun satu wujud, sharika lahu (engkau mensyirikanNya) datang kerana Hak SWT:wahdahu la shararika lahu: (ertinya:tiada sekutu bagiNya), tiada wujud lain hanya wujud Hak SWT. Seperti laut dan ombak.

Seperti Firman Allah:

Barang kemana mukamu kau hadapkan, maka di sana ada Dzat Allah.

Kata Maulana Abdul Rahman Jami:

Sekampung sekedudukan, sekelian  itu Ia jua;
Pada telekung segala minta makan dan pada atlas segla raja-raja itu pun Ia jua;
Pada segala perhimpunan dan perceraian dan rumah yang tersembunyi dan yang berhimpun itu pun Ia jua;
Demi Allah sekeliannya ia jua.
Maka demi Allah sekeliannya Ia jua.

 

Bersambung ke bahagian 8.

Al Muntahi (bhg. 9)

fs 

Al Muntahi: bahagian 9.

17. Firman Allah SWT: QS AS SAFFAAT 37: 96: Bahawa Allah menjadikan kamu dan barang perbuatan kamu.
Dan lagi Firman Allah SWT: QS Hud 11:56: Tiada sesuatu yang melata di muka bumi, melainkan Dialah yang menguasainya. Sesungguhnya Tuhanku di jalan yang lurus.
Dan lagi sabda Rasullulah SAW: Tiada daya dan upayaku kecuali dengan izin Allah.
Sabda Rasullulah lagi: Tidak bergerak suatu zarah kecuali dengan izin Allah.
Sabda Rasullulah lagi: Baik dan buruk itu daripada Allah SWT.
Firman Allah SWT QS AL MURSALAT 77:30: : Dan tidak berkehendak mereka itu seorang jua pun melainkan dengan kehendak Allah jua.
18. Sekelian dalil dan hadis ini isyarat kepada : Siapa yang mengenal diri maka mengenal Tuhannya,  lain daripadanya tiada.
Dan kata Syeikh Muhyildin Arabi:
Telah haramlah atas segala yang berahi bahawa memandang lain daripadaNYA,
Apabila ada keadaan Allah dengan cahayaNYA giling gemilang.
Barang segala yang ku katakan dan bahawa Engkau jua Esa, tiada lain
Suatupun daripadaMu maka sekarang barang lain daripadaMu itu seperti haba adanya.
 
Seperti Firman Allah SAT: QS AR RAHMAN 55: 29: Pada segala hari Ia dalam kelakuanNYA
Bersambung ke bahagian 10.

Al Muntahi (bhg. 8)


HarkenForest

Al Muntahi (bhg. 8)

15.  Misalan seperti sebiji benih pokok, di dalamnya terdapat sepohon pokok kayu,yang lengkap. Asalnya biji benih itu jua, setelah menjadi pokok kayu yang tumbuh besar, biji benih itu pun ghaib (tidak kelihatan)- pokok kayu juga yang kelihatan. Warnanya pokok pun berbagai-bagai, rasanya buah pun berbagai-bagai, tetapi asalnya adalah dari sebiji benih itu.

Seperti firman Allah:… Kami tuangkan dengan suatu air dan Kami lebihkan setengah atas sesetengahnya pada rasa makanan.

Perhatikan pula misalan, seperti air hujan dalam tanam-tanaman. Air hujan itu jua yang meresapi pada sekelian tanaman dan berbagai-bagai pula rasanya. Pada buah limau masam rasanya, pada pokok tebu manis rasanya, pada mambau pahit rasanya, masing-masing membawa rasanya. Tetapi pada hakikatnya air hujan itu jua pada sekelian tanaman itu.

Satu lagi misalan, seperti matahari dengan panas, jikalau panas kepada bunga atau kepada cendana, tidak ia beroleh bau daripada bunga (maksudnya bau bunga itu tidak memberi bau kepada panas). Jikalau najis pun demikian lagi. Jangan syak di sini kerana syak itu adalah hijab.

16.  Kerana atas bekas Jalal dan atas bekas mazhar Jamal tidak ia bercerai, maka Kamal namanya. Nama Al Muiz tiada bercerai, nama Al Latif dan Al Qahar tiada bercerai. Dan syirik pun bekasNYA jua:

Seperti kata Shah Nikmatullah:

Kulihat Allah pada keadaanku dengan PenglihatanNYA;
Bermula: keadaanku itu KeadaanNYA,
maka tilik kepadaNYA dengan tilik daripadaNYA.
Kekasihku, pada segala lain daripadaku,
lain daripada adaku,
Bermula: padaku AdaNya itu dengan keadaanku satu ju.
 

 Inilah sifat: Siapa yang mengenal diri maka mengenal Tuhannya, itupun permulaan jua.

 
Bersambung ke bahagian 9.

Al-Muntahi (bhg.6)


m_ngomo 

 Bahagian 6: Al-Muntahi

 10. Sebab demikian maka Syeikh Aynul Qudat menyembah anjing mengatakan: Hadha rabbi ( Inilah Tuhanku), kerana anjing itu tidak dilihatnya, hanya dilihatnya Tuhannya jua. Seperti orang melihat kepada cermin, mukanya jua yang dilihatnya, cermin ghaib dari penglihatannya,  kerana alam ini pada penglihatannya seperti bayang-bayang  jua,…. rupanya ada Hakikatnya tiada.  Nisbat kepada Hak Allah SWT tiada nisbat kepada kita,  adalah kerana kita memandang dengan hijab. Seperti Sabda Rasullulah SAW: Siapa mengenal dirinya sesungguhnya ia mengenal Tuhannya; dengan isyaratkan jua, … pada Hakikatnya dikenal pun Ia, mengenal pun Ia.

11. Seperti Sabda Rasullulah SAW: Barangsiapa mengenal Allah lanjuti lidahnya. Pada tatkala mulanya mengetahui… siapa mengenal dirinya…, setelah sampai kepada… sesungguhnya mengenal Tuhannya,… maka Ia Sendiri NYA. Maka Sabda Rasullulah SAW: Barangsiapa mengenal Allah maka kelulah lidahnya; … ertinya tempat berkata tiada lagi lulus.

12.Seperti kata Syeikh Muhyil Din Arabi: Sesungguhnya Allah adalah Rahsiamu; …. itupun isyarat kepada: Barangsiapa mengenal dirinya sesungguhnya ia mengenal Tuhannya,..jua.

Syair Muhyil Din Arabi;

Jika ada engkau orang bermata, bermula hamba itu kenyataan Tuhan, jika ada engkau orang berbudi maka barang segala engkau lihat ini keadaan NYA; Dan jika ada engkau orang bermata dan berbudi, maka apakah yang engkau lihat?,….hanya segala sesuatu itu di dalam NYA melainkan dengan segala rupa.

Seperti Firman Allah SWT: Ia itu serta kamu barang di mana ada kamu.

Dan lagi kata Syeikh Muhyil Din Arabi dalam bentuk syair: Kamilah huruf yang maha tinggi tiada berpindah, Dan yang tergantung dengan istananya di atas puncak gunung. Aku engkau di dalamnya, dan kami engkau dan engkau,.. Ia, …maka sekelian dalam Itu… Ia, ….. maka bertanyalah engkau kepada barangsiapa yang telah wasal (sampai kepada Allah).

bersambung… ke bahagian: 7


Al-Muntahi (bhg. 5)


Bahagian 5: Al-Muntahi

padang9. Kerana itu kata Saidina Ali: Tiada ku lihat melainkan ku lihat Allah di dalamnya. Kata Mansur Hallaj, pun berkata dengan sangat berahinya: Ana al Hak (Akulah yang Sebenarnya. Maka kata sufi Yazid: Maha suci aku, siapa besar sebagai aku.

Maka kata syeikh Junaid: Tiada di dalam jubahku ini melainkan Allah. Maka kata Sayyid Nasimi: Bahawa Akulah Allah. Maka kata Maksudi:  Dzat Allah yang Qadim, itulah dzat ku sekarang.

Dan kata Maulana Rumi: Alam ni belum, adaku adalah; Adam pun belum, adaku adalah; Suatupun belum, adaku berahikan Qadim ku jua.

Dan kata Sultan Asyikin Syeikh Ali Abul Wafa: Segala wujud itu WujudNya jangan kau sekutukan dengan yang lain; Apabila kau lihatNya bagiNya dengan dia, maka sujudlah engkau sana tiada berdosa.

Maka kata kitab Gulshan:

Hai segala Islam, jika kau ketahui berhala apa,

Kau ketahui olehmu bahawa yang jalan itu pada menyembah berhala dikata.

Jika segala kafir daripada berhalanya itu dalalnya,

Mengapa maka pada agama itu jadi sesat.

(Peringatan: Kandungan kitab ini amat berat bagi pemikiran  yang tidak faham,  jangan membuat kesimpulan sendiri,  mintalah kepada Allah untuk mendapatkan penjelasan.)

Bersambung… ke bahagian 6.